Tuesday, May 25, 2010

Rakyat Miskin : Bupati Wonogiri Makan Tiwul

Metrotvnews.com, Solo: Program pemerintah pusat untuk mencukupi kebutuhan rakyat miskin dengan gelontoran beras miskin (raskin) sebanyak 13 kg/keluarga/bulan tidak membuat sebagian besar rakyat miskin di Wonogiri bagian selatan lepas dari makanan tiwul.

Beras menjadi seperti barang pusaka yang sangat berharga yang dikeluarkan saat warga menggelar perhelatan perkawinan, supitan atau, syukuran kelahiran bayi. Banyak petani miskin di wilayah Kecamatan Pracimantoro, Paranggupito, Giritontro, dan desa-desa di bagian selatan yang merupakan penghasil ketela pohon atau gaplek lebih menikmati tiwul (makanan pengganti nasi, terbuat dari bahan baku ketela pohon) ketimbang nasi.

"Rasanya belum disebut makan, kalau belum makan tiwul. Nasi ya ada, tetapi hanya pelengkap. Nasi kita makan ramai-ramai pada saat warga mempunyai hajatan mantu, supitan, atau syukuran kelahiran anak," ungkap Mbah Sastro, 62, petani desa Song Bledeg, Kecamatan Paranggupito di sela-sela merawat tanaman ketela pohon di tegalannya yang lumayan luas. Sejumlah petani berucap sama bahwa setiap hari tiwul menjadi makanan sehari-hari dan nasi hanyalah sebagai pelengkap.

Bupati Wonogiri Begug Poernomosidi sendiri selama ini menjauh dari makanan nasi dan memilih tiwul sebagai pengenyang perutnya sehari-hari. "Makan tiwul sudah menjadi kebutuhan utama perut saya. Dan ini bukan karena saya benci nasi, tetapi ya sudah menjadi kegemaran, seperti orang Papua suka akan sagu ketimbang beras. Dan Insya Allah, saya akan terus makan tiwul," ujarnya di sela-sela makan siang dengan tiwul di rumah dinasnya, Rabu (17/2).

Terkait keseriusan pemerintah pusat yang berkeinginan melakukan penyebaran raskin sampai pelosok desa, Begug menegaskan, dirinya telah melakukan kontrol secara seksama. Ia melarang aparatnya mengurangi jatah yang sudah ditetapkan, karena pertimbangan ingin membagi rata dan adil kepada rakyat lainnya yang belum mendapatkan.

dari http://metrotvnews.com/index.php/metromain/newscat/nusantara/2010/02/18/11072/Dari-Rakyat-sampai-Bupati-Wonogiri-Makan

Rakyat Miskin : 7 kecamatan di Wonogiri

Wonogiri (Espos)–Sebanyak tujuh kecamatan di Kabupaten Wonogiri masuk dalam kriteria daerah rawan pangan. Ketujuh kecamatan itu adalah Giritirto, Karangtengah, Wuryantoro, Manyaran, Kismantoro, Purwantoro, dan Jatisrono.

Berbagai upaya tengah dilakukan Kantor Ketahanan Pangan Kabupaten Wonogiri untuk mengurangi tingkat kerawanan pangan itu dan menjadikan daerah tersebut menjadi daerah mandiri pangan. Di antaranya melalui program Desa/Kelurahan Mandiri Pangan.

Kasi Ketersediaan dan Difersifikasi Pangan, Tiningsih, mewakili Kepala Kantor Ketahanan Pangan Wonogiri, Muhammad Taufiq, saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (3/2) mengungkapkan, ada tiga indikator sebuah daerah dikategorikan rawan pangan, yaitu dilihat dari ketersediaan pangan dibandingkan dengan kebutuhan, akses terhadap pangan yang mengacu persentase penduduk miskin, kondisi infrastruktur wilayah, sarana listrik dan sebagainya, serta pemanfaatan pangan, yang mengacu pada kesadaran masyarakat dalam memanfaatkan sumber-sumber pangan.

“Dilihat dari persentase kemiskinan, suatu daerah dikatakan rawan pangan apabila jumlah penduduk miskin di daerah itu minimal 35%,” kata Tiningsih.

Dia mengungkapkan, di antara tujuh kecamatan rawan pangan itu, Kismantoro tergolong sangat rawan. Jumlah penduduk miskinnya mencapai 20.000 jiwa, atau sekitar 44,63% dari total penduduk yang mencapai 44.058 jiwa.

Tiningsih mengatakan, sepanjang 2009 lalu yang merupakan tahun pertama berdirinya Kantor Ketahanan Pangan di Wonogiri, pihaknya sudah dan akan terus melakukan upaya untuk mengurangi tingkat kerawanan itu. Di antaranya melalui bantuan sosial dalam bentuk uang sebagai modal untuk membuka usaha-usaha ekonomi berbasis masyarakat. Masyarakat sendirilah yang mengelola, merencanakan kegiatan dan membangun usaha itu.

Selain itu, lanjut Tiningsih, diadakan pula pelatihan-pelatihan keterampilan agar masyarakat setempat bisa bekerja dan memiliki penghasilan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan. Diprogramkan pula cadangan pangan pekarangan serta pemberian bantuan bibit tanaman buah rambutan dan sukun.
dari http://wartaparanggupito.blogspot.com/2010/02/7-kecamatan-di-wonogiri-rawan-pangan.html