Apakah Kita Ingin Tetap Miskin?
Kemiskinan selalu dikaitkan dengan ketiadaan materi seseorang, seperti uang atau harta kekayaan. Padahal, kemiskinan pada prinsipnya dapat digambarkan dalam sebuah kondisi dimana seseorang tidak memiliki sesuatu. Itu artinya, bila seseorang tidak memiliki ilmu alias bodoh, maka dia dapat juga disebut miskin. Kondisi ketiadaan ini biasanya saling mempengaruhi satu sama lain dan membentuk lingkaran setan.
Sebagai ilustrasi, terdapat sebuah keluarga miskin. Karena kemiskinannya, mereka tidak dapat bekerja dengan pendapatan yang layak. Sehingga anak-anaknya tentu saja tidak sekolah, dan kalaupun sekolah, maka di tempat yang kurang bermutu. Gizi untuk menambah daya ingat dan membuat sehat anak-anaknya pun tidak diperoleh. Setelah besar, anaknya melamar pekerjaan disana-sini untuk membantu orang tuanya yang semakin tua dan lemah. Karena berhubung tidak memiliki ijazah dari sekolah yang bonafit maka dia sulit diterima di tempat yang menawarkan gaji tinggi. Dan kalaupun mau buka usaha, modalnya tidak ada. Akhirnya kondisi miskin lagi yang hanya bisa mereka peroleh.
Ilustrasi di atas tentang kemiskinan akan selalu menjerat dan terwariskan ke anak cucu. Maka dari itu, kondisi ini harus secepatnya diputus. Yang jadi masalah sekarang adalah bagaimana cara memutus jalur lingkaran setan tersebut. Tenang!!! sekarang banyak program pemerintah dalam hal pemberantasan kemiskinan, kebodohan maupun kesehatan, bahkan kabarnya alokasi dananya sangat besar. Akan tetapi program tersebut tidak akan berhasil tanpa peran aktif kita.
Kenapa? Kita lihat dulu penyebab kemiskinan berikut ini:
- penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
- penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
- penyebab sub-budaya (”subcultural”), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
- penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
- penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial. (sumber wikipedia)
Dari penyebab tersebut, poin 1 sampai 3 merupakan penyebab kemiskinan yang paling dasar yang menunjukkan bahwa kemiskinan merupkan produk kita sendiri. Dan jika dikaitkan dengan bantuan, terlihat bahwa masyarakat kita lebih suka dibantu daripada membantu. Padahal mayoritas masyarakat Indonesia adalah beragama ISLAM. Dan “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan.” (Qs. al-Baqarah [2]: 268).
Sepetinya, mayarakat Indonesia tidak takut dengan setan, dan tentu saja tidak takut dengan kemiskinan. Atau mungkin lebih berpegang pada prinsip yang selalu digunakan sebagai alasan dalam memperbanyak anak memperbanyak rizki: “Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberikan rizki.” (Qs. ar-Rûm [30]: 40). Dan “Tidak ada satu binatang melata pun di bumi, melainkan Allah yang memberi rizkinya.” (Qs. Hûd [11]: 6).
Padahal disisi lain, Islam dengan tegas menghindarkan umatnya dalam kondisi kemiskinan melalui cara:
- “Maka berjalanlah ke segala penjuru, serta makanlah sebagian dari rizeki-Nya.” (Qs. al-Mulk[67]: 15).
- “Kewajiban ayah memberikan makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara ma’ruf.” (Qs. al-Baqarah [2]: 233).
- “Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal, sesuai dengan kemampuanmu.” (Qs. ath-Thalâq [65]: 6). :*:

0 Comments:
Post a Comment
Subscribe to Post Comments [Atom]
<< Home